Selamat Datang Di www.beddum.com


Minggu, 23 Januari 2011

Teknik Mapping Yang Efektif

1. interpertasi peta
2. Lithologi
3. Struktur geologi
4. Stratigrafi
5. Vegetasi

Langkah-langkah efektif
1. Lintasan.
usahakan lintasan yang mengcover peta
2. Check.
Lithologi,struktur,stratigrafi.
Ditempat:
• Searah atau berlawanan dengan dip
• Flat form/alur liar
• Perbukitan
• bentang alam
3. cari daerah erosi tinggi:
• alur liar
• sungai
• jalan setapak
• tebing
• bekas penambangan
• air terjun
4. gunakan alat semaksimal mungkin.
• Foto bentang alam, foto singkapan, sketsa, cuaca, azimuth,jam pemotretan
• Diskripsi-lokasi, singkapan, perlayer
• Profil
• Sayatan
• Penampang
• Palu,kompas, Hcl,protaktor,gps,
5. No diskusi (jangan berdebat) tempo-tempo
6. Menejemen waktu dan tim
7. Ingat selalu kata kunci.
8. Prosesing data
9. Laporan harian

Sabtu, 22 Januari 2011

Manfaat Mempelajari Struktur Geologi

Manfaat / Fungsi belajar Kekar:
a. Untuk mengetahui kemana sumber dari Fine (urat mineral)
b. Sebagai reservoir minyak.
c. Sebagai cebakan mineral-mineral bernilai ekonomis.
d. Dalam Geologi Teknik dapat dijadikan sebagai acuan membuat terowongan, bendungan dan bangunan teknik lainnya.
e. Sebagai jalan migrasi Minyak.
f. Bila ada struktur geologi lainnya berupa sesar, kekar bisa dijadikan sebagai data penting untuk mencari arak Sesar dan pola tegasan yang terjadi pada daerah tersebut.

Manfaat mempelajari Sesar:
a. Mengetahui jenis-jenis sesar secara umum.
b. Mampu menginterpetasi pada peta bahwa pada daerah tertentu jika ada Sesar dengan cara melihat pola kontur dan pola pengaliran dipeta.
c. Mampu mengetahui tegasan lokal (setempat) pada daerah tertentu.
d. Mampu mengenali dan tahu bentukan-bentukan yang ada batuan bila batuan itu mengalami pensesaran. Sepeti adanya: breksiasi, Lereng curam yang memanjang
e. Pada dunia tambang dapat digunakan sebagai perencanaan system penambangan.
f. Sebagai tempat lewat, pengendapan, pembentukan dari cebakan mineral.
g. Dalam keilmuan (science) dapat struktur terpenting dalam Teori Tektonik Lempeng
h. Sebagai Jalan lewatnya (migrasi) minyak dan gas bumi
i. Bagian perangkap untuk membentuk reservoar minyak dan gas bumi
j. Dalam bidang panasbumi :
a. Jalan lewat air atau uap air dari dalam ke atas (bila panas)
b. Jalan lewat air dari permukaan ke bawah
k. Dapat dipakai sebagai acuan untuk membangun Bangunan Teknik pada tempat tertentu.

Manfaat mempelari Lipatan:
a. Mampu mengetahui jenis lipatan, mengelompokkan jenis lipatan dan pola tegasan yang menyebabkan lipatan itu terjadi
b. Mampu menginterpetasi pada peta bentukan lipatan dengan melihat pola kontur, pola pengaliran.
c. Mengetahui bagian-bagian (unsur-unsur) dari suatu lipatan.
d. Dalam perminyakan bisa dijadikan sebagai tempat cebakan minyak dan gas bumi.
e. Sebagai perencanaan pembangunan penambangan pada dunia tambang.

Minggu, 09 Januari 2011

Pembentukan Kompleks Tektonik Bantimala

Susunan batuan daerah penelitian yang beraneka ragam dan acak tidak dapat dipisahkan dari proses geologi yang membentuknya. Susunan batuan yang acak tersebut terbentuk sejalan dengan pembentukan daerah tersebut yaitu pada saat pembentukan pulau Sulawesi meliputi saat terjadinya pemisahan lengan barat Sulawesi dengan pulau Kalimantan. Dari semua jenis batuan dan strukrur geologi yang dijumpai dilapangan, oleh beberapa ahli geologi membagi proses pemisahan pulau Sulawesi dan Kalimantan kedalam beberapa bagian termasuk batuan yang terbentuk pada waktu tersebut. Urutan proses tersebut adalah sebagai berikut:
VI. 1. 1. Zaman Trias Bawah
Pada Zaman Trias Bawah ini terjadi subduksi atau tunjaman lempeng oseanik Pasifik margin Barat di bawah lempeng kontinen Eurasia (Margin Timur Pulau Kalimantan) dengan tipe tunjaman convergent compressive margin. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya kompleks akresi atau kompleks hancuran pada daerah pertemuan dua lempeng tersebut sedang pada lempeng pasifik again Barat terjadi rifting akibat tension yang dihasilkan dari subduksi tersebut. Selain akresi pada daerah pertemuan antara dua lempeng tersebut terjadi pula deformasi batuan akibat perubahan tekanan dan temperatur yang dihasilkan oleh benturan kedua lempeng tersebut

Gambar 4. Subduksi lempeng Pasifik Barat terhadap margin Timur lempeng Eurasia
(Kalimantan) pada Zaman Trias Atas. Terlihat adanya pembentukan
kompleks akresi yang kuat (Sukamto, 1982)


VI. 1. 2. Zaman Trias Atas


Pada Zaman Trias Atas Pergerakan lempeng Pasifik Barat menunjam ke bawah lempeng Eurasia terus berlanjut hingga margin Barat yang tadinya mengalami rifting ikut menunjam masuk ke bawah marjin Timur Kalimantan. Tekanan yang semakin besar akibat penunjaman ini mengakibatkan terjadinya perlipatan dan metamorfisme terhadap kompleks akresi yang telah terbentuk sebelumnya. Sementara di sisi terluar akresi berupa hancuran disertai endapan awal ikut menunjam masuk ke bawah mengikuti tunjaman lempeng pasifik merupakan awal pembentukan mélange. Proses metamorfisme terhadap kompleks akresi menghasilakan sekis biru – sekis hijau yang merupakan penciri metamorfisme.

Gambar 5. Metamorfisme pada kompleks akresi menghasilkan sekis hijau dan sekis
biru pada Zaman Trias Atas (Sukamto,1982)


VI. 1. 3. Zaman Jura


Tekanan subduksi lempeng pasifik terhadap lempeng Eurasia yang lebih pasif semakin besar sehingga menyebabkan deformasi kuat dan metamorfisme terhadap kompleks akresi. Penambahan tekanan yang semakin besar menyebabkan terjadinya peremukan yang merupakan sumber material penyusun mélange. Peremukan ini berlangsung pada kedua lempeng sehingga pada mélange ditemukan perpaduan material yang berasal dari lempeng kontinen dan oseanik. Selanjutnya material-material tersebut ikut masuk ke bawah bersamaan penunjaman membentuk mélange. Dan kembali tersingkap oleh lanjutan dari tekanan subduksi lempeng Pasifik Barat.

Gambar 6. Deformasi kuat dan remetamorfisme serta pembentukan mélange pada
Zaman Jura (Sukamto, 1982)

VI. 1. 4. Zaman Kapur


Pada Zaman Kapur ini diperkirakan telah terjadi pengendapan sediment laut dalam jumlah besar berdasarkan umur chert dan endapan flisch (endapan trench yang terbentuk pada slope lereng yang besar) dan endapan laut dalam lainnya. Kondisi ini hanya bias tercipta jika telah terbentukj cekungan. Sehingga dapat diinterperetasikan bahwa pada Zaman ini terjadi subsidence pada daerah pertemuan dua lempeng membentuk palung (trench) akibat penekukan lempeng pada gerak konvergen yang disertai dengan transgresi.

Gambar 7. Subsidence dan Transgresi; sedimentasi flisch dan chert. Pembentukan
busur magmatisme Manuggal dan Alino pada Zaman Kapur.


VI. I. 5. Kala Paleosen


Pada Kala ini terjadi pelepasan bagian lempeng Pasifik Barat yang telah menunjam ke bawah lempeng Eurasia, masuk dan melebur ke dalam lapisan astenosfer bumi. Pelepasan ini menyebabkan hilangnya gaya tekan ke atas secara drastis yang menyebabkan terjadinya subsidense besar-besaran pada cekungan dan pada kompleks akresi baru secara Full apart (adanya gaya tarik antar lempeng yang kemudian berlanjut dengan struktur yang bekerja yaitu sesar turun, (kamus geologi). Subsidense cekungan juga didukung oleh pembebanan lapisan sedimen laut dalam yang tebal. Pelepasan bagian lempeng ini juga menyebabkan hilangnya sebagian besar gaya tekan pada proses metamorfisme yang terjadi terus menerus atau progradasi metamorfisme yang terjadi terus menerus atau progradasi metamorfisme pada pertemuan kedua lempeng sehingga dapat ditemukan adanya kontak antara metamorfisme tingkat tinggi (protolith batuan beku ultrabasa) dan tingkat rendah (protolith endapan pelitik) yang menunjukkan adanya perubahan tekanan dan temperatur secara besar-besaran.

Gambar 8. Subsidense terhadap kompleks akresi Full Apart, serta pengendapan
sedimen deltaic (Sukamto, 1982)


VI. 1. 6. Kala Eosen – Oligosen


Akibat pembebanan lapisan sedimen laut dalam subsidense terus berlanjut dan kondisi lingkungan pengendapan semakin mengarah ke laut dangkal akibat pendangkalan oleh tebalnya lapisan sedimen laut dalam. Pada Kala ini terendapkan Formasi Mallawa yang beranggotakan antara lain batupasir dan batugamping klastik dengan sisipan batubara yang menunjukkan lingkungan pengendapan transisi atau deltaik. Sementara akibat pendangkalan oleh penebalan lapisan sedimen, lingkungan pada cekungan ini mengarah ke arah laut dangkal dan terjadi pengendapan sedimen karbonat secara besar-besaran menghasilkan Formasi Tonasa dengan ketebalan sekitar 3 km. Dan aktvitas vulkanisme bawah laut pada kerak oseanik terus berlanjut.

Gambar 9. Lanjutan subsidens serta pengendapan sedimen karbonat dan batuan –
batuan klastik (Sukamto, 1982)


VI. 1. 7. Kala Miosen


Akibat imbas gaya dari tumbukan lempeng, lempeng kontinen yang lebih kaku dan tebal menderita imbas gaya yang lebih besar, sehingga menciptakan zona – zona lemah pada marginnya; kompleks akresi, dimana akibat lanjutan Full Apart, menyebabkan terjadinya penipisan margin lempeng dan pada akhirnya menghasilkan spreading. Kondisi ini menyebabkan terjadinya injeksi magma astenosfer, dimana arus gaya yang dihasilakan oleh arus konveksinya mengakibatkan terjadinya rifting margin kontinen. Proses lanjutan dari rifting; akan membentuk busur atau arc dan cekungan back- arc


Gambar 10. Spreading pada lempeng Eurasia yang merupakan awal dari pembentukan Selat Makassar (Sukamto, 1982)


VI. 1. 8. Kala Miosen – Pliosen


Pada Kala ini rifting tepian kontinen Eurasia telah berkembang lebih lanjut dan seiring dengan semakin besarnya tekanan akibat tumbukan lempeng, lempeng oceanic muda yang terbentuk akibat rifting tersebut mengalami uplift yang menghasilkan obduksi ofiolit pada daerah Barru dan Pangkep. Dan pada sisi lain mulai mengalami penunjaman ke arah bawah busur yang terbentuk pada Kala Miosen
Sedang pada cekungan intrusi magma semakin aktif dan membentuk intrusi-intrusi sill-dike dan stock serta plutovulkanisme. Pada Kala ini terjadi kegiatan vulaknisme besar-besaran, dimana kegiatan vulaknisme camba berkembang dengan pesat sehinggan endapan material vulkaniknya menutupi hampir sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan. Dan pada lempeng kerak oceanik kembali terjadi kegiatan vulaknisme bawah laut yang diperkirakan terhenti pada Kala Miosen.


Gambar 11. Obduksi oceanik baru bentukan spreading Makassar Strait terhadap lengan Barat Sulawesi (kompleks ofiolit Barru – Pangkep, yang dilanjutkan dengan subduksi (Sukamto, 1982)


VI. 1. 9. Kala Plio – Plistosen


Penunjaman Kerak oseanik muda ke arah busur mengakibatkan terjadinya pembalikan busur dan terbentuknya subduksi bimodal atau subduksi dari dua arah yang berbeda/berlawanan. Akibatnya pada lengan Sulawesi Bagian Barat terbentuk busur magmatisme yang ditandai oleh aktifnya gunungapi Pare – pare. Serta penunjaman kembali atau re-thrusting ofiolit. Pada Kala ini penempatan Bantimala Kompleks telah mencapai tahap akhir.

Gambar 12. Penempatan Bantimala Kompleks (seperti sekarang)

Sumber : Pembentukan Kompleks Tektonik Bantimala Oleh Ir.Kaharuddin MS Dosen Teknik Geologi Universitas Hasanuddin

Olivin

Warna Segar : Hijau
Warna Lapuk : Coklat
Cerat : Putih
Kilap : Kaca
Belahan : -
Pecahan : Konkoidal Kekerasan : 6,5-7 Berat Jenis : 3,27-4,20 . Tenacity : Brittle Komposisi Kimia : (Mg,Fe)2SiO4
Golongan : Silikat
Sistem Kristal : Orthorombik
Nama Mineral : OLIVINE
Keterangan : Terbentuk karena prases metamorfisme kontak pada batuan dolomit,dan proses pembekuan magma pada suhuh 1000-1200 C. umumnya merupakan mineral pembentuk batuan dan juga sebagai minearal pengiring dalam batuan beku basa seperti gabbro,peridotit, kimberlit,ophiolit dll. Biasanya berasosiasi dengan serpentin,piroksin,hornblende.Kegunaannya sebagai Ornamen,perhiasan.
Referensi : - Batuan dan mineral oleh
Ir.Doddy Setia Graha
- Rocks and Minerals by
Simon & Schuters

Jumat, 07 Januari 2011

Barit

Pada umumnya, barit (BaSO4) mengandung campuran unsur Cr, Ca, Pb, dan Ra, yang senyawanya mempunyai bentuk kristal yang sama.
Unsur pengotor barit adalah besi oksida, lempung, dan unsur organik, yang semuanya dapat memberikan beragam warna pada warna kristal barit murni adalah putih atau abu-abu. Sebagai unsur Barium (Ba), barit juga dijumpai sangat terbatas mengandung feldspar (3% BaO), plagioklas (7,3% BaO), muskovit (9,9% BaO), dan biotit (6-8% BaO). Kerak bumi rata-rata mengandung unsur barium sekitar 0,05%. Barit juga dijumpai sebagai mineral ikutan (gangue mineral) terutama pada cebakan logam sulfida, seperti timah. Sebagian besar produksi barit dunia digunakan dalam industri perminyakan. Pemakaian ini mencapai sekitar 85-90% dari produksi barit secara keseluruhan. Sisanya digunakan sebagai bahan baku dalam industri kimia barium, sebagai bahan pengisi dan pengembang (filler dan extender), dan agregat semen

Selasa, 16 November 2010

Fluorit


Warna  Segar               :  Bening Kekuningan
Warna Lapuk              :      -
Cerat                           :  Putih
Kilap                           :  Kaca
Belahan                       :  Sempurna
Pecahan                       :  Tidak rata
Kekerasan                   :  4  (Skala Mosh)
Berat Jenis                   :  3.1                    .
Tenacity                      :  Brittle
Komposisi Kimia        :  CaF2
Golongan                    :  Halida
Sistem Kristal              :  Isometrik
Nama Mineral             :  FLUORIT
Keterangan                :    Terbentuk pada urat Hydrotermal pada suhu sedang sampai suhu tinggi Pada fase Hypotermal pada suhu 300-500 C. Terdapat pada pegmatit.berasosiasi dengan barite,kuarsa, zinc, timbal, topas, tourmalin, cassiterit,dan apatit.kegunaannya sebagai pembuatan asah Hydrofluoric,industri plastik dan Alat Optik, dan pada Metalurgi pembuatan bauksit

Referensi                     :  - Batuan dan mineral oleh
                                         Ir.Doddy Setia Graha
                                       - Rocks and Minerals by
                                         Simon & Schuters
                                     - Dictyonary of Geology by
                                       - D.G.A.Whitten and J.R.V.Brooks

Minggu, 07 November 2010

Kromit


Warna  Segar               :  Hitam
Warna Lapuk              :  Hitam putih
Cerat                           :  Putih
Kilap                           :  Logam
Belahan                       :  Jelek
Pecahan                       :  Tidak rata
Kekerasan                   :  5,5
Berat Jenis                   :  4,5-4,8                                  .
Tenacity                      :  Ductile
Komposisi Kimia        :  FeCr2O4
Golongan                    :  Oksida
Sistem Kristal              :  Isometrik
Nama Mineral             :  KROMIT
Keterangan             :  Terbentuk karena proses kristalisasi magma pada suhu 1200 C. Terdapat pada batuan beku basa dan ultra basa Seperti pada peridotit,dan pada batuan metamorf seperti serpentinit.Dan pada sebagian permukaan bijih besi padat. Biasanya berasosiasi dengan olivun,talk,serpentin ,uvarovite,piroksin,biotit,magnetit,anortit. Kegunaannya sebagai bahan pembuat kromium ,industri besi,stanles teel

Referensi                     :  - Batuan dan mineral oleh
                                         Ir.Doddy Setia Graha
                                       - Rocks and Minerals by
                                         Simon & Schuters

Horblende


Warna  Segar               :  Hitam
Warna Lapuk              :  Hitam putih
Cerat                           :  Putih
Kilap                           :  Kaca
Belahan                       :  Sempurna
Pecahan                       :  Tidak Rata
Kekerasan                   :  5-6
Berat Jenis                   :  3-3,4                                      .
Tenacity                      :  Brittle
Komposisi Kimia        :  (Ca,Na)2-3(Mg,Fe,Al)5(Al,Si)8O2(OH)2
Golongan                    :  Silikat
Sistem Kristal              :  Monoklin
Nama Mineral             :  HORNBLENDE
Keterangan                  : Terbentuk karena proses pembekuan magma pada suhu sekitar 700-600 C.Merupakan mineral penting dan penyebarannya luas dan mineral pembentuk batuan pada batuan beku seperti diorit,gabbro,basalt,pada betuan metamorf seperti pada hornblendite.Biasanya berasosiasi dengan piroksin,biotit.Kegunaannya sebagai koleksi ilmuan.

Referensi                     : - Batuan dan mineral oleh
                                         Ir.Doddy Setia Graha
                                       - Rocks and Minerals by
                                         Simon & Schuters

Halite


Warna  Segar               :  Bening
Warna Lapuk              :  Abu-abu
Cerat                           :  Putih
Kilap                           :  Kaca
Belahan                       :  Sempurna
Pecahan                       :  Tidak Rata
Kekerasan                   :  2,5
Berat Jenis                   :  2.1                      .
Tenacity                      :  Brittle
Komposisi Kimia        :  NaCl
Golongan                    :  Halida
Sistem Kristal              :  Isometrik
Nama Mineral             :  HALITE
Keterangan                :    Dibentuk karena proseseksogen melalui pengeringan danau yang mengandung garam atau tempat lain yang mengandung air garam atau terbentuk dari hasil presipitasi air laut secara primer/langsumg dangan temperatur sekitar 100 C,juga merupakan hasil presipitasi pada endapan sedimen seperti lempug. Beraasosiasi dengan Anhydrit,Sylvenit,Carnalite,dan Gipsum.Kegunaannya sebagai pembuatan asam Hydrofluoric,Ramuan obat diet,bahan Optik.

Referensi                     :  - Batuan dan mineral oleh
                                         Ir.Doddy Setia Graha
                                       - Rocks and Minerals by
                                         Simon & Schuters

Selenite (Gypsum)

Warna : Putih Bening
Cerat : Putih
Kilap : Kaca
Belahan : Sempurna
Pecahan : Tidak Rata
Kekerasan : 2
Berat Jenis : 2.35 .
Tenacity : Sectile
Komposisi Kimia : CaSO4,2H2O
Golongan : Sulphat
Sistem Kristal : Monoklin
Nama Mineral : Selenite(Gypsum)
Keterangan : Ditemukan pada lempung/tenah liat dan batu gamping, Gipsum adalah mineral yang dapat ditemukan pada endapan luas yang meliputi seluruh dunia dimana terbentuk karena hasil evaporasi air laut.larut dalam asam sulfat,tdk larut dalam HCl.Berasosiasi dengan sulphur.halite,anhydrite,fluorite, kegunaannya sebagai gips dan hiasan.

Referensi : -Rocks and Minerals by Simon ang Schuters
-Geologi & Mineralogi Tanah Oleh
Dr.Ir.H.Moch.Munir,MS
-Dictionary of Geologi By D.G.A.Whitten and
J.R.V.Brooks

Almandite (Garnet)


Warna                          :  Hitam
Cerat                           :  Putih
Kilap                           :  Kaca
Belahan                       :  Tidak Jelas
Pecahan                       :   Rata
Kekerasan                   :  6,5-7,5
Berat Jenis                   :  4,32
Tenacity                      :  Brittle
Komposisi Kimia        :  MgAl2(SiO4)3
Golongan                    :  Silikat
Sistem Kristal              :  Isometrik
Nama Mineral             :  Almandite(Garnet)
Keterangan                  :  Ditemukan pada batuan metamorf dan juga pasir dan kerikil serta pada endapan aluvial.Terbentuk pada temperatur tinggi,kadang ditemukan bentuknya(ukuran) sangat besar +30 cm diameternya.Kadang terdapat pada Granite dan Pegmatite,juga terdapat pada Varietas lava yang luas dan Pyroclastik.Garnet adalah mineral yang resisten dan ditemukan pada Skarn dan lapisan hidrotermal.berasosiasi dengan Kuarsa,feldspar,mica, calcite,Chlorite,magnetit,Chromite dan wollastone . Kegunaanya sebagai alat penggosok,ampelas,dan untuk perhiasan.                                                                  
Referensi                     :  -Rocks ang Mineral by Simon and Schuters
                               -Batuan & mineral oleh Ir.Doddy Setia Nugraha
                                 -Geologi & Mineralogi Tanah Oleh
                                 Dr.Ir.H.Moch.Munir,MS                             
                                -Dictionary of Geologi By D.G.A.Whitten and
                                        J.R.V.Brooks         

Minggu, 31 Oktober 2010

Pyrite


Warna  Segar               :  Kuning
Warna Lapuk              :  Coklat hitam
Cerat                           :  Hitam
Kilap                           :  Logam
Belahan                       :  Sempurna
Pecahan                       :   Rata
Kekerasan                   :  6,5-6
Berat Jenis                   :  5-5,2                                     .
Tenacity                      :  Ductile
Komposisi Kimia        :  FeS2
Golongan                    :  Sulfida
Sistem Kristal              :  Isometrik
Nama Mineral             :  PYRITE
Keterangan         :   Terbentuk pada lapisan Hydrotermal pada endapan temperatur rendah sampai temperatur tinggi pada endapan Hypotermal.merupakan mineral sulfida yang tebanyak dan terluas didalam batuan hampir semua umur.ditemukan dalam urat-urat hydrotermal dan pada batuan beku ,sedimen dan metamorf. Biasanya berasosiasi dengan kalkopirit,spalerit,galena,kuarsa. Kegunaannya adalah sebagai, indikasi adanya keberadaan emas.pembuatan asam sulfida.
Referensi                     :  - Batuan dan mineral oleh
                                         Ir.Doddy Setia Graha
                                       - Rocks and Minerals by
                                         Simon & Schuters
   

Biotit


Warna  Segar               :  Hitam
Warna Lapuk              :  Kecoklatan
Cerat                           :  Putih
Kilap                           :  Kaca
Belahan                       :  Sempurna
Pecahan                       :  Tidak Rata
Kekerasan                   :  2,5-3
Berat Jenis                   :  2,8-3,2                .
Tenacity                      :  Sectile
Komposisi Kimia        :  K(Mg,Fe)3(Al,Fe)Si3O10(OH,F)2
Golongan                    :  Silikat
Sistem Kristal              :  Monoklin
Nama Mineral             :  BIOTITE
Keterangan               :    Terbentuk dari hasil kristalisasi magma pada suhu 800 C .terdapat pada batuan beku seperti gabro dan diorit,pada batuan sedimen seperti batupasir,pada batuan metamorf seperti gneiss dan schist. berasosiasi dengan muscovit, kuarsa, klorit, albit, alamandine, staurolit, kyanite, silimanite, kegunaannya sebagai koleksi ilmuan.

Referensi                     :   - Rocks and Minerals by
                                         Simon & Schuters
                     

Lazurite


Warna  Segar               :  Biru
Warna Lapuk              :  Hitam
Cerat                           :  Putih
Kilap                           :  Tanah
Belahan                       :  Tidak jelas
Pecahan                       :  Tidak rata
Kekerasan                   :  5-5.3
Berat Jenis                   :  2,38-2,42                              .
Tenacity                      :  Brittle
Komposisi Kimia        :  (Na,Ca)7-8(Al,Si)12O24((SO4,Cl2(OH)2))
Golongan                    :  Silikat
Sistem Kristal              :  Isometrik
Nama Mineral             :  LAZURITE
Keterangan             :  Selalu berkombinasi dengan mineral lainnya,terbentuk pada batuan asam dan kdang pada lava sebagai hasil erupsi gunung api.terbentuk melalui metamorfosis kontak pada batu gamping. Terdapat pada BatuGamping ditemukan bersama scapolite, enstatite, augite, hornblende, diopsit, mica.digunakan sebagai pembuatan asam hydrofluoric, sebagai batu tempel(hiasan dinding),sbg perhiasan.

Referensi                     :   - Rocks and Minerals by
                                         Simon & Schuters

Galena

Warna Segar : Hitam
Warna Lapuk : Hitam coklat
Cerat : Abu-abu
Kilap : Logam
Belahan : Sempurna
Pecahan : Rata
Kekerasan : 2,7
Berat Jenis : 8,1 .
Tenacity : Ductile
Komposisi Kimia : PbS
Golongan : Sulfida
Sistem Kristal : Hexagonal
Nama Mineral : GALENA
Keterangan : terbentuk karena proses Hydrotermal pada endapan mesotermal pada suhu 200-300 C.terdapat pada endapan sedimen dan metamorf.berasosiasi dengan spalerit, kalkopirit,kalsit,dolomit,barit,dan fluorit. kegunaannya sebagai produksi perak.timbal.

Referensi : -Batuan dan Mineral oleh
Ir.Doddy Setia Graha
-Rocks and Minerals by
Simon & Schuters

Jumat, 22 Oktober 2010

Kuarsa (SiO2)


            Kuarsa kristal (SiO2) umunya berwarna putih, dengan cerat putih dan kilap kaca. Dengan belahan yang tidak sempurna dan pecahan yang tidak rata (konkoidal), mineral ini mempunyai kristal hexagonal prisma bipiramida, memiliki berat jenis 2,65  kg/m3 dan kekerasan 7 (Mohs). Memiliki daya tahan yang luar biasa pada proses abrasi / pengikisan. Mencair pada suhu 17100 C. Bila mengalami pendinginan yang cepat akan memberikan tekstur yang amorf.
            Proses pembentukan mineral yaitu melalui pembekuan magma yang bersifat asam, setelah proses magmatisme dan memasuki fase pegmatisme dan pnumatolisis pada proses hidrotermal yang bersuhu rendah (berkisar 2000 – 4000 C). Awalnya magma mengintrusi batuan dipermukaan dan menghasilkan gejala-gejala intrusi sehingga terbentuklah mineral-mineral yang bersifat holokristalin dan asam. Kemudian seiring dengan penurunan suhu karena penyerapan panas oleh batuan yang dilaluinya serta penurunan tekanan akibat semakin menjauhnya magma dari dapur magma dan pengaruh gravitasi sehingga memasuki tahap pada suhu pembentukan kristal kuarsa, selanjutnya terbentuklah mineral kuarsa dengan kondisi tertentu sehingga membentuk tekstur yang tertentu pula. Mineral ini dijumpai pada batuan beku asam seperti granit, granodiorit, tonalit, ryolit. Pada batuan sedimen klastik sebagai detrital material, pada batuan metamorf yaitu phylit, kuarzit granulit dan eklogit. Di dalam geode berongga yang didapatkan di daerah batuan piroklastik didapatkan pula kuarsa kristal  dengan struktur bergerigi.

Pasir Kuarsa

            Pasir kuarsa terdapat sebagai endapan sedimen, berasal dari rombakan batuan yang mengandung silicon dioksida (kuarsa  SiO2) seperti granit, riolit dan granodiorit. Endapan pasir kuarsa terjadi setelah melalui proses transportasi, sortasi dan sedimentasi. Oleh sebab itu endapan pasir kuarsa di alam tidak pernah didapatkan dalam keadaan murni. Butir kuarsa di alam umunya terdapat bercampur dengan lempung, feldspar, magnetit, ilmenit, limonit, pirit, mika (biotit), hornblende dan zircon serta bahan organic dari tumbuhan dan sebagainya. Proses transportasi oleh air menyebabkan batuan pasir menjadi bertambah halus dan relatif menjadi lebih murni. Material pengotor tersebut pada umumnya memberi warna pada pasir kuarsa, sehingga dari warna yang dihasilkan dapat ditunjukkan derajat kemurniannya. Pada umunya pasir kuarsa diendapkan dalam penyebaran yang melebar, dengan ukuran butir yang berbeda mulai dari fraksi halus (0,06 mm) – kasar (2 mm). Pasir kuarsa di Indonesia juga pada umunya mempunyai komposisi SiO2 = 55,30 – 99,87 %, Fe2O3  = 0,01 – 9,14 %, TiO2 = 0,01 – 0,49 %, Al2O3 = 0,01 – 18,00 %, CaO = 0,01 – 0,26 %, MgO = 0,01 – 0,26 %, K2O = 0,01 – 17,00 %. Dalam perhitungan cadangan endapan pasir kuarsa dapat dilakukan dengan cara perkalian antara luas penyebaran dengan ketebalan rata-rata, sedang ketebalan rata-rata dapat diketahui dengan cara pengeboran tangan, sumur uji atau parit uji. Disamping itu untuk menentukan kualitas endapan dilakuakan pengambilan contoh endapan untuk keperluan analisa laboratorium baik analisa kimia maupun mikroskopik.
            Teknik penambangan pasir kuarsa dilakukan secara tambang terbuka berbentuk jenjang. Tahapan kegiatan meliputi :
1.      Pengupasan lapisan penutup, yaitu untuk memindahkan tanah penutup endapan pasir kuarsa ketempat yang tidak mengganggu kegiatan penambangan. Tanah ini nantinya untuk reklamasi. Peralatan yang digunakan antara lain cangkul, sekop dan lain-lain (dapat juga traktor). Pemilihan alat ini tergantung pada kondisi lapangan dan skala produksi yang diinginkan.
2.      Pembongkaran, yaitu untuk melepaskan endapan pasir kuarsa dari batuan induknya. Pada umunya endapan pasir kuarsa merupakan endapan lepas/lunak yang mudah dibongkar. Oleh sebab itu dapat digunakan peralatan tradisional seperti cangkul, sekop, bckhoe atau power shovel bila diinginkan produksi banyak.
3.      Pemuatan dan pengangkutan dimana material hasil pembongkaran dimuat dan diangkut ke unit pengolahan/penampungan (stock pile). Pemuatan dapat menggunakan alat muat wheel loader, back hoe atau dredging. Pengangkutan dapat menggunakan alat angkut truck ungkit, gerobak lori, pikulan dan lain-lain.
Pada dasarnya pengolahan/pencucian pasir kuarsa dapt dimaksudkan untuk menghilangkan zat pengotor, meningkatkan kadar SiO2 atau memisahkan/mengubah ukuran butiru ntuk memperoleh spesifikasi yang diinginkan. Tingkat pengolahan pasir kuarsa ditentukan oleh jenis pengunaannya.
  Adapun pemanfaatan pasir kuarsa  antara lain yaitu :

  1. Industri keramik, sebagai bahan baku pembuatan tegel, mosaik dan enamel.
  2. Industri cat sebagai bahan pengisi (filler).
  3. Industri karet sebagai bahan pengeras
  4. Industri gerenda sebagai bahan amplas.
  5. Industri logam sebagai bahan penghilang karat
  6. Pembuatan felo silicon dan silicon karbid dengan persyaratan : SiO2 (minimum) 98%, besi oksida (maksimum) 0,3 % dan bebas dari pyrit (FeS2).
  7. Industri semen Portland, sebagai bahan baku penolong untuk pembuatan semen Portland yaitu sebagai pengontrol kandungan silica. Untuk 1 ton semen diperlukan 66,5 kg pasir kuarsa.
  8. Industri gelas/kaca, yaitu sebagai bahan baku utama. Untuk memperoleh produk gelas/kaca yang diinginkan, dalam proses pembuatannya kedang-kadang ditambahkan oksida-oksida.
  9. Industri bata tahan api, yaitu sebagai bahan baku utama (minimal 95 %).
  10. Industri pengecoran, yaitu digunakan sebagai pasir cetak (minimal 90 %).
                  Di Sulawesi Selatan, daerah penambangan mineral ini yaitu di Kabupaten Maros, Camba (endapan kuarsa, putih kuning abu-abu) SiO2 = 90 %, Fe2O3 2 %.